Bendungan Jlantah Rampung 2024
Jakarta - Sebagai
upaya meningkatkan tampungan air dan mendukung ketahanan pangan nasional,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air terus membangun bendungan maupun embung di berbagai
wilayah.
Salah satunya adalah pembangunan Bendungan
Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pengelolaan sumber daya air dan irigasi terus dilanjutkan dalam rangka mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan.
Di samping itu kehadiran bendungan juga
memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang
akan menumbuhkan ekonomi lokal.
“Pembangunan bendungan akan diikuti dengan ketersediaan jaringan irigasinya. Dengan demikian bendungan yang dibangun dapat segera dimanfaatkan karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani,” kata Menteri Basuki.
Bendungan Jlantah memiliki kapasitas tampung 10,97 juta m3 yang bersumber dari aliran Sungai Jlantah dan Sungai Puru. Konstruksi bendungan didesain dengan tinggi 70 m (dari dasar sungai), panjang puncak 404 m, lebar puncak 12 m, elevasi puncak bendungan +690 m.
Bendungan ini dibangun oleh kontraktor PT
Waskita Karya (Persero) dan PT Adhi Karya KSO dengan nilai kontrak sebesar Rp
965 miliar dengan masa pelaksanaan 2019 dan ditargetkan selesai pada 2024. Saat
ini progres fisik bendungan mencapai 39,41 persen.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Maryadi Utama mengatakan setelah rampung Bendungan Jlantah akan menjadi bendungan multifungsi yang memberikan manfaat ekonomi salah satunya sebagai sumber irigasi.
“Bendungan Jlantah akan mengairi 1.494 ha
persawahan di kawasan Kecamatan Jatiyoso dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar,”
ujar Maryadi.
Di samping sebagai sumber irigasi, bendungan
ini akan menghasilkan air baku sebesar 150 liter/detik. Kehadiran bendungan ini
memberi manfaat untuk potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
sebesar 0,625 mega watt, reduksi banjir sebesar 51,05 % atau 70,33 m3/detik
untuk Q50, serta konservasi dan
pariwisata di Kabupaten Karanganyar.
Kehadiran Bendungan Jlantah menambah jumlah tampungan air yang dibangun Kementerian PUPR dalam mendukung ketahanan pangan dan air di Provinsi Jawa Tengah. Selain Bendungan Jlantah, terdapat dua bendungan lain yang tengah dibangun dan empat bendungan yang telah rampung di Jawa Tengah.
Rinciannya, bendungan yang rampung yakni Bendungan Gondang di Karanganyar dengan
kapasitas tampung 9,15 juta m3, Bendungan Logung di Kudus yang mampu menampung
air sebesar 20,15 juta m3, Bendungan Pidekso di Wonogiri dengan kapasitas
tampung 25 juta m3, dan Bendungan Randugunting di Blora dengan kapasitas
tampung 14,42 juta m3.
Sementara bendungan yang masih dalam tahap
konstruksi yakni Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo dan Bendungan Jragung di Kabupaten Semarang.
Ditargetkan selesai pada 2024, Bendungan Jlantah bisa mengaliri 1.494 hektare sawah di Karanganyar. Saat ini progres fisik bendungan mencapai 39,41%.
Pembangunan bendungan ini merupakah salah satu
upaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat
Jenderal Sumber Daya Airuntuk meningkatkan tampungan air dan mendukung
ketahanan pangan nasional. Karena itu Kementerian PUPR melalui Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air terus membangun bendungan maupun embung di berbagai
wilayah.
Bendungan Jlantah di Karanganyar memiliki
kapasitas tampung 10,97 juta m3 yang bersumber dari aliran Sungai Jlantah dan
Sungai Puru. Konstruksi bendungan didesain dengan tinggi 70 m (dari dasar
sungai), panjang puncak 404 m, lebar puncak 12 m, elevasi puncak bendungan +690
m.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan,
pengelolaan sumber daya air dan irigasi terus dilanjutkan dalam rangka
mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan. Di samping itu kehadiran bendungan
juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata
yang akan menumbuhkan ekonomi lokal.
“Pembangunan bendungan akan diikuti dengan
ketersediaan jaringan irigasinya. Dengan demikian bendungan yang dibangun dapat
segera dimanfaatkan karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah
milik petani,” kata Menteri Basuki dalam siaran pers yang diterima Solopos.com
pada Jumat (1/7/2022).
Bendungan ini dibangun oleh kontraktor PT
Waskita Karya (Persero) dan PT Adhi Karya KSO dengan nilai kontrak sebesar
Rp965 miliar dengan masa pelaksanaan 2019 dan ditargetkan selesai pada 2024.

Komentar
Posting Komentar